Mahasiswa Pengusaha
Sepenggal Kisah Tentang Bagaimana Mengubah Universitas Menjadi Lahan Yang Potensial Untuk Usaha
Terkadang keinginan untuk bekerja begitu besar, inginnya bisa kerja mapan dan bisa menghidupi diri sendiri, kuliah dari uang sendiri, beli apapun dari keringat sendiri. Namun sayangnya upaya untuk mengaplikasikannya begitu sulit.
Saat ini lowongan kerja makin sulit, gak ada istilah pegawai tetap yang ada hanyalah pegawai kontrak. Banyak lulusan perguruan tinggi yang jadi pengangguran, apalagi yang gak sampai lulus SD. Mau milih-milih profesi, hampir-hampir gak ada yang bisa dipilih. Cuma bisa pasrah, terima nasib, mau jadi apapun bolehlah. Akhirnya cita-cita cuma jadi impian saja.
Aku cukup khawatir dengan kondisi ini. Pendidikan makin mahal, mau kerja gak ada waktu luang. Sebagai seorang mahasiswa waktuku banyak dihabiskan oleh tugas dan buku, lebih-lebih dengan tingkah dosen yang makin hari, makin nyebelin. Paling-paling cuma tersisa waktu buat istirahat saja. Pernah aku kepikiran buat cari kerja, jadi sales bolehlah. Pokoknya bisa menghasilkan uang. Nyatanya gak gampang juga, nglamar sana-sini gak diterima lantaran gak pinter ngomong sama orang. Puter-puter otak gimana caranya bisa menghasilkan uang. Kalau buat biaya kuliah masih gampang karena ada beasiswa yang bisa aku andalkan sejak semester pertama aku masuk perguruan tinggi. Tapi untuk yang lain???? Dong . . . Dong . . .
MLM mulai jadi pilihan, lantaran saat itu lagi gencar-gencarnya MLM masuk kampus. Cuma tetap meski pintar-pintar milih biar dapat yang berkualitas dan bermanfaat. Enam bulan sudah menjalani bisnis MLM, tapi hasilnya NOL Besar. Memang ada sedikit penghasilan, lumayan cukup buat beli HP CDMA Flip merk Nokia. Kegagalanku dibisnis ini bukan lantaran bisnisnya jelek cuma akunya saja yang males keluyuran cari downline. Disamping itu aku gak pintar-pintar amat ngobrol sama orang baru, apalagi mempengaruhi supaya join.
Sering terbersit dipikiranku, kerja sama orang gak enak, gimana kalau bikin usaha sendiri? Pertanyaan ini menjawab semua kegalauanku. Akhirnya jiwa kreatifku pun mulai tumbuh dan bersemi. Langkah awal yang aku lakukan adalah cari ide dan dana. Cukup sulit memang tapi masih bisa diakali. DIKTI tiap tahunnya mengadakan agenda Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Ada beberapa kategori yang ditawarkan yaitu penelitian, teknologi, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, dan karya tulis ilmiah. Semua program mengacu pada penulisan karya ilmiah, bila lolos akan didanai dan bisa direalisasi. Program ini akhirnya yang aku manfaatkan untuk membangun usaha dengan modal murni bukan uang pribadi
.
Usaha yang pertama kali bisa terealisasi dari program ini adalah Usaha Pot Hias Berbahan Dasar Sampah. Ide ini aku implementasikan dari buku Pembuatan Bahan Bangunan Dari Sampah. Idenya cukup simple, pot terbuat dari campuran semen dan pasir. Dengan panduan buku tersebut aku merubah campurannya menjadi abu, pasir, dan sedikit semen. Perlu diketahui bahwa abu sampah bisa berfungsi sebagai zat pengikat seperti semen.
Alhamdulillah program ini didanai dan bisa lolos PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, yang merupakan acara puncak dari Program Kreativitas Mahasiswa yang diadakan oleh DIKTI. Sayangnya usaha ini tidak berjalan lama lantaran aku dan teman-teman terlalu sibuk kuliah, disamping itu proses produksinya sangat sulit untuk menghasilkan produk yang berkualitas, dampaknya proses pemasaran menjadi sulit.
Bingung jadi pengusaha merangsang syaraf-syaraf otak untuk berpikir lebih kreatif. Finally, PKM pun bisa dijadikan sebagai bisnis yang cukup menjanjikan. Loh kog bisa? Pasti teman-teman bertanya-tanya bagaimana bisa ajang kompetisi mahasiswa digunakan sebagai lahan bisnis yang potensial.
Caranya cukup mudah kok. Awal mengikuti program ini, kita diharuskan membuat proposal lomba yang akan diseleksi oleh pihak DIKTI mengenai kelayakannya untuk bisa didanai dan lolos PIMNAS. Sebelum itu pihak universitas juga ikut menyeleksi. Untuk setiap proposal yang yang dikirim ke DIKTI akan diberikan royalti oleh Universitas sebesar Rp 75.000 . Nah dana ini yang akan kita manfaatkan sebagai ladang usaha. Untuk satu proposal kita bisa mendapat dana sekitar Rp 75.000, bagaimana kalau sepuluh proposal? atau mungkin duapuluh proposal?
Wah lumayan kan! Kita bisa mendapatkan dana sebesar apapun sesuai dengan keinginan kita. Cuma ya jangan kemaruk saja.
Ada seorang teman yang sempat tanya, bagaimana kalau proposal kita tidak masuk seleksi Universitas? Berarti gagal dong dapat royaltinya? Kalau masalah ini sangat mudah penyelesaiannya. Setiap Universitas memiliki target untuk lolos dan bisa memenangkan PIMNAS, selain itu juga ingin meraih rekor pengirim proposal terbanyak tingkat nasional. So, pasti diterima deh proposalnya, cuma ya ada sedikit revisi yang meski dilakukan. Perlu diingat bahwa tiap Universitas memberikan royalti yang berbeda, bisa lebih besar ataupun lebih kecil. Tergantung kebijakan Universitas masing-masing. Don’t worry! Gak bakal sampai rugi kok.
Menjadi mahasiswa pengusaha, masih terus aku lakukan sampai hari ini. Tahun ini tiga proposalku dan teman-teman dinanai dikti. Adapun judul-judulnya adalah sebagai berikut:
Sayangnya semua program tersebut tidak sampai lolos PIMNAS. Tapi aku tetap bersyukur dengan ini aku memperoleh usaha baru yang akan segera aku rintis. Usaha tersebut kami beri nama “UD Dolaku” bergerak dibidang makanan ringan seperti dodol dan keripik, telah memiliki ijin dari Departemen Kesehatan Setempat, serta telah memiliki SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) dan TDP (Tanda Daftar Perusahaan).
Disamping itu aku juga akan memulai usaha baru yaitu usaha industri kayu di bidang media pembelajaran. Semuanya telah ada dananya masing-masing dan siap untuk dikerjakan. Perlu diketahui semua itu didapat karena kami mengikuti program-program potensial yang diadakan oleh universitas. So jangan cuma jadi mahasiswa biasa saja, teman-teman harus jadi mahasiswa pengusaha. Supaya saat lulus nanti tidak sampai masuk list data mahasiswa pengangguran di Indonesia.
NB:
Sst. . . Aku masih punya lo satu peluang baru yang potensial untuk menghasilkan pasif income. Internet Marketing, pernah dengar gak? Nanti deh pasti tak bagi ilmunya! Ini bukan sekedar omdo alias omong doang, but it’s real, dan aku sudah membuktikannya.






